fanfic time

Colours -One Shot-

by Pinot (비니)

Title : Colours

Cast : AC

Genre : Romance

rating : G


 

Colours

“Kau pikir kau siapa??!! Hah!”

“Arggh! Sudahlah! Aku malas bicara denganmu!”

BRAKK! Terdengar suara pintu yang dibanting dengan keras dan isak tangis Omma. Pemandangan yang sudah sangat biasa dirumahku. Omma dan Appa. Tiada hari tanpa pertengkaran.

KRING! KRING!

“Ah! Yeong-guna~ Ne. Aku segera keluar.”

Brak. Suara pintu tertutup. Siapa itu Yeong-gun? Aku melihat keluar jendela, mobil siapa itu? Omma masuk ke dalam mobil sedan hitam itu. Sepertinya raut wajah Omma lebih baik setelah mendapat telepon dari laki-laki yang dipanggil Yeong-gun itu.

“Haah..” Aku membaringkan badanku di tempat tidur. Menatap langit-langit kamar yang terlihat suram. Menyedihkan. Sungguh.. aku mulai berpikir. Untuk apa aku lahir? Bila hanya untuk melihat pertengkaran orang tua setiap hari. Kenapa aku dilahirkan di keluarga ini? Untuk apa mereka melahirkanku? Aku bahkan tidak pernah dianggap di rumah ini. Ada seperti tak ada. Hampa. Aku tidak mengerti untuk apa aku hidup. Aku tidak pernah merasakan kebahagiaan lagi di rumah ini. Semua sirna setelah Omma tahu Appa memilik wanita lain di luar sana. Jangankan kebahagiaan, ketenangan saja tidak ada di rumah ini. Omma yang sekarang, setiap hari hanya pergi ke luar entah ke mana, dan entah bersama siapa. Tidak pernah mempedulikanku. Setiap bulan hanya ada sebuah amplop berisi uang diletakkan di atas meja makan saat aku akan pergi ke sekolah. Apa yang mereka pikirkan? Yang aku butuhkan sesungguhnya bukan uang. Tapi kalian. Aku tidak menginginkan hidup seperti ini. Ya, aku ingin ajal segera menjemputku pergi dari semua ini. Aku sudah bosan. Di dalam dan di luar rumah sama saja. Teman-teman sekolahku pun sama munafiknya. Mereka mendekatiku karena uang. Bila aku sedang susah, melihatku saja tidak mau. Semuanya sama saja. Hanya mempedulikan diri sendiri. Aku benar-benar bosan dengan hidup ini. Kapan aku mati? Yang aku inginkan sekarang hanya satu. Kematian.

Aku membuka pintu kamarku. Melihat keadaan rumah yang kacau. Aku tidak ingin berada di rumah yang seperti ini.

Aku berjalan keluar rumah. Melihat sekelilingku. Semua terasa hampa. Dunia seakan hitam putih di mataku. Tidak memiliki warna. Untuk apa aku hidup di dunia seperti ini? Tuhan, untuk apa aku ada di dunia ini?

TIIN!TIIIN!!

“Nak! Awas!”

BAM!

Apa itu tadi? Aku pikir aku yang tertabrak. Semua orang mengerubungi Truk tadi. Sepertinya menabrak seseorang. Kulihat darah berceceran di mana-mana.

“Ada anak laki – laki tertabrak truk!” teriak sesorang.

“Keadaannya parah.” kata yang lain.

Kenapa bukan aku saja yang terbaring di sana?

Dunia sungguh tidak adil. Dunia tidak pernah adil.

Pandanganku beralih pada sesosok perempuan. Itu Min-hee. Perempuan yang aku cintai. Aku mengikutinya. Kemudian dia memasuki sebuah café. Aku baru ingat. Kami memiliki janji bertemu di café ini. Kenapa aku bisa lupa?

Aku duduk di depan Min-hee. Dia hanya tersenyum. Senyum yang manis. Aku membalas senyumannya. Min-hee kemudian melihat handphonenya. Dia menghela nafas. Lalu menatapku dengan pandangan kosong. Sesaat kemudian Min-hee kembali memainkan handphonenya lagi. Apa yang harus kukatakan untuk memulai pembicaraan? Bagiku hanya menatapnya sudah lebih dari cukup. Hanya Min-hee dunia yang berwarna di mataku. Min-hee, apa kamu menyukaiku? Seperti aku menyukaimu. Tidak, aku bahkan sangat mencintaimu. Aku tahu Min-hee baru putus dari pacarnya. Dan mungkin tidak akan semudah itu baginya untuk melupakan mantan pacarnya itu.

Min-hee menelepon seseorang. Tapi sepertinya tak diangkat. Min-hee mencoba menelepon lagi.

Sepertinya kali ini teleponnya dijawab.

“Ah! Oppa!…  Ajumma?”

“Mwo??” Min-hee terlihat kaget. Dia berlari keluar café.

Apa yang terjadi? Kenapa Min-hee terlihat begitu panik? Aku berlari mengejarnya.

Sampai di sebuah rumah sakit, tak begitu jauh dari café tadi. Aku memasuki rumah sakit itu. Berusah mencari sosok Min-hee. Ah! Itu dia. Dia sepertinya sedang menanyakan sesuatu pada bagian resepsionis. Belum sempat aku menghampirinya, dia berlalu pergi. Aku terus mengikutinya, hingga dia memasuki sebuah kamar pasien. Siapa yang sakit? Aku mengikutinya masuk.

Min-hee menutup mulutnya melihat seorang pria terbaring di tempat tidur itu.

Tidak. A.. Aku.. Itu.. Aku??

“Oppa!” Min-hee mendekati diriku yang terbaring di sana. Kemudian menangis.

Omma? Appa? Apa yang terjadi padaku? Apa aku sudah..

Seorang suster memasuki kamar ini. Dia melewatiku begitu saja. Aku menatapi tubuhku yang tadi ditembus suster itu. Apa aku.. sudah mati?

Min-hee, Omma, Appa, semua menangisiku.

Aku masih bingung dengan semua ini. Apa benar aku sudah mati?

“Geun-sooya~ bangunlah. Maafkan Omma.”

“Geun-soo. Appa akan memberikan apapun yang kamu mau asal kamu bangun.”

Omma, Appa. Benarkah? Bukankah kalian selama ini tidak peduli padaku?

“Geun-soo, bangunlah! Omma dan Appa janji akan memperbaiki semuanya. Kamu anak kami satu-satunya. Satu-satunya milik kami yang berharga. Tolonglah Tuhan, jangan biarkan dia pergi meninggalkan kami.” Omma menggenggam tanganku. Appa terlihat ikut menangis sambil berusaha menenangkan  Omma.

Min-hee, dia juga ikut menangis, sambil berkali-kali memanggilku.

“Oppa.. Oppa..”

“Omma! Appa! Min-hee! Lihat! Aku ada di sini!” aku berusaha memanggil tapi percuma, tidak ada yang dapat mendengarku.

Ya Tuhan.. Aku tidak pernah tahu bahwa aku berarti bagi mereka. Kenapa selama ini aku selalu mengharapkan kematian? Lihatlah apa yang telah aku harapkan. Aku menyesal. Sungguh. Aku.. Aku tidak bisa memperbaikinya lagi.Tuhan telah menjawab keinginanku. Tapi aku tidak bisa melihat mereka seperti ini. Aku tidak bisa meninggalkan mereka dengan cara seperti ini.

Seberkas cahaya menyilaukanku. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tuhan, apa yang terjadi? Apa kamu akan membawaku pergi sekarang? Aku tidak dapat merasakan apa-apa. Semua terasa hampa. Kali ini benar-benar hampa.

Aku membuka mata. Di mana ini? Apa aku sudah meninggalkan semuanya?

“Dokter! Dia siuman!”

“Omma..”

“Geun-sooya.. syukurlah..” Omma menyeka air matanya.

“Oppa..” Min-hee tersenyum. Air mata masih membasahi pipinya.

Aku.. masih hidup?

“Min-hee, pulanglah dulu. Kamu kan sudah menunggu semalaman.” kata  Appa.

“O. Oppa, aku pulang dulu ya. Ajumma, Ajusshi, saya permisi dulu.” pamit Min-hee.

Beberapa hari setelah aku dirawat, akhirnya aku dibolehkan keluar. Omma dan Appa menemaniku setiap hari.  Meskipun Appa hanya di malam hari karena harus bekerja. Sudah lama aku tidak pernah merasakan kehangatan keluarga seperti ini. Min-hee pun sering menjengukku. Aku merasa dia mulai menyukaiku.

“Appa sudah datang. Ayo.”

“O..”

Hari ini aku keluar dari rumah sakit, dunia yang menurutku serba putih. Di luar Appa sudah menunggu. Omma membantuku masuk ke dalam mobil.

Kami bertiga tidak berkata sepatah katapun  di sepanjang perjalanan. Aku, Omma, dan Appa.

“Geun-soo..” Appa memulai pembicaraan.

“Maafkan kami selama ini. Kami bukan orang tua yang baik.”

“Benar.” sambung Omma. “Kami sudah banyak menyakitimu.”

“Ya. Kami berdua sudah memutuskan..”

“Omma! Appa!” potongku sebelum Appa sempat melanjutkan pembicaraan.

“Aku.. akan mencoba mengerti apapun keputusan yang kalian ambil. Aku yakin itulah jalan terbaik. Bagaimanapun juga, aku tetap anak kalian bukan? Omma, Appa, mianhae. Aku menyayangi kalian.”

“Geun-soo..” Omma dan Appa terdiam untuk sesaat.

“Kami telah memutuskan untuk mengulangi semuanya dari awal. Appa akan meninggalkan wanita itu. Dia ternyata hanya menipuku.”

“Ya. Omma juga akan berhenti bekerja di kantor milik hidung-belang itu.”

“Geun-soo, bisakah kita memulai kembali semuanya dari awal?”

Aku tertegun. Mungkin inilah apa yang benar – benar aku inginkan. Bukan kematian. Kematian tidak akan menyelesaikan semuanya.

Tentu aku tidak akan menolak, aku menganggukkan kepala dan tersenyum, “Mulon.”

Sinar matahari menembus jendela mobil, aku melihat ke luar jendela, kini aku melihat dunia yang berbeda dari sebelumnya. Dunia yang penuh warna.

“Oppa!” Min-hee melambaikan tangan kemudian tersenyum manis.

“Mianhaeyo. Sudah membuatmu menunggu.”

“Sebagai gantinya oppa harus menraktirku makan es krim!” tuntut Min-hee.

Aku tertawa, kemudian menggandeng tangannya, “Kajja.”

Kami belum berpacaran. Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk menembaknya.

“Oppa. Oppa tahu alasanku putus dengan mantanku?”

“Aniyo. Memang karena apa?” aku memang ingin tahu, tapi aku tidak pernah berani menanyakannya.

“Karena aku ketahuan..”

“Ketahuan apa?” aku semakin penasaran.

“Dia mengetahui kalau selama ini aku menyukai oppa.” Min-hee menunduk. Pengakuannya itu membuatku kaget. Jadi selama ini Min-hee menyukaiku??

“Lalu, kenapa kamu mau berpacaran dengannya?”

“Itu karena aku sudah putus asa, waktu itu kan oppa dekat dengan cewek di kelas oppa. Aku pikir aku tidak punya harapan lagi.”

Aku tertawa.

“Pabo. Yang aku sayang selama ini cuma kamu. Lagipula cewek itu cuma manfaatin aku saja.”

“Gurae oppa?” tanya Min-hee kaget, sama kagetnya denganku saat mendengar pengakuannya.

“Molla.” Aku mengangkat bahu.

“Ya~ Oppa! Jangnan Hajima!”

“Masih mau es krim?” kataku sambil tertawa lalu berjalan mundur kemudian berlari. Min-hee berusaha mengejar.

“Ya~ Oppa!”

-THE END

Ket :

Omma – Ibu
Appa – Ayah
Yeong-guna – Yeong-gun(nama orang) ditambah a (Panggilan akrab)
Ne – Iya
Ajumma – Bibi, tante, panggilan untuk wanita dewasa
Oppa – kakak laki-laki (digunakan oleh perempuan)
Geun-sooya – kalau a(panggilan akrab) digunakan untuk nama yang berakhiran konsonan, ya      dipakai untuk nama yang berakhiran vokal
Ajusshi – Paman, panggilan untuk laki- laki dewasa
O – Ho oh, he eh, iya
Mulon – tentu saja
Mianhae/Mianhaeyo – maaf
Kajja – ayo jalan, ayo pergi
Aniyo – tidak
Pabo – bodoh
Gurae – benar
Molla – tau’ ah, tidak tahu
Jangnan Hajima – jangan bercanda
Ya – hey, woi


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s