fanfic time

In Love With Canon (One Shot)

by Pinot


Ini cerita OS japan pertamaku, semoga bisa dinikmati ya ^^

Cerita ini murni hanya karangan dan imajinasi pengarang.



Backsound : Canon in d mayor


Title : In Love With Canon

Genre : Romance

Rating : AG

Cast : AC (Author’s Character) :

-Inaba Kanako

-Haibara Kyosuke

-Shiroyama Kenichi







Author POV 

Sinar mentari menembus dedaunan. Burung-burung berkicau merdu. Kanako berjalan dengan riang, membuat orang-orang di sekitar menyapanya.

“Kanako-chan! Ada kabar gembira apa?” tanya seorang Ibu pemilik toko sayuran.

“Ehm. Kabar gembiranya adalah Ibu kelihatan cantik hari ini!” seru Kanako riang.

Kanako memang anak yang periang dan menyenangkan, semua orang pasti senang berada di dekatnya. Tak heran kalau Kanako dikenal oleh hampir seluruh penduduk Shimane.

Kanako POV

Aku berjalan menelusuri koridor. Banyak anak-anak cowok usil yang mencoba fmenghalangiku.

“Kanako-chan. Ayo kencan denganku.” kata seorang cowok.

“Denganku saja.” kata yang lain.

“Cih. Tunggu sampai aku ubanan, baru aku mau kencan dengan kalian.” kataku seraya berjalan pergi.

Aku memang bisa dibilang akrab dengan anak-anak sekolah. Jadi kalau ada yang mengajakku seperti itu, tentu itu hanya candaan semata.

###

Alunan melodi piano yang tak asing melintas di telingaku. Melodi ini, sepertinya aku pernah mendengarnya. Aku mencari asal suara piano itu. Lalu aku menyadari bahwa aku tengah berada di depan ruang musik. Pintu ruangan itu terbuka sedikit sehingga aku memiliki celah untuk mengintip ke dalam. Shiroyama Kenichi. Pandanganku terhenti pada sosok itu. Apa dia yang memainkan melodi ini? Ah! Aku ingat. Canon. Ya, aku yakin yang aku dengar adalah canon.

BRAK

Aku menjatuhkan buku-buku yang kupegang saat dia menoleh. Memalukan sekali. Dia mendapati aku yang sedang mengintipnya. Aku berlari meninggalkan tempat itu sebelum Shiroyama memergokiku lagi dengan wajahku yang pasti sudah sangat merah.

Kenichi POV

Gadis itu berlari pergi saat menyadari aku melihatnya. Siapa dia?

Aku mengambil mp3 playerku lalu mematikan lagu canon yang kuputar tadi.

Aku mulai menekan tuts piano, mencoba memainkan lagu canon. Musik klasik yang menyentuh hati. Sudah lama aku tidak memainkannya.

Lagu ini selalu mengingatkanku padanya.

Kanako POV

Aku memegang wajahku yang masih saja panas.

PLAK

“Au!” teriakku. Seseorang memukul kepalaku dari belakang.

“Habisnya daritadi dipanggil gak dengar.” kata Kyo-chan.

“Wah. Wajahmu merah sekali. Kamu demam?” tangan Kyo-chan memegang keningku lalu kutepis.

“Ti..tidak. Ada apa memanggilku?”

“Buku-bukunya sudah kamu antar dengan benar kan? Kamu ceroboh sih. Aku jadi khawatir.”

“Khawatir padaku? Tumben.” kataku sinis.

“Bukan. Maksudku buku-bukunya.”

“Teman macam apa kamu.”

“Haha. Bercanda.” Kyo-chan tertawa.

Kyo-chan memang usil. Setiap hari hari selalu saja mengerjai dan mengejekku.

“Hey. Kamu datang kan nanti?”

‘Pasti!” kataku sambil tersenyum. Hari ini adalah hari penting bagi Kyo-chan. Pertandingan basket pertamanya di SMA. Aku yakin dia bisa memenangkan pertandingan itu.

###

Entah kenapa langkahku menuju ke ruang musik. Padahal seharusnya aku pergi ke lapangan basket.

Aku memasuki ruangan itu, tak ada seorang pun di dalam. Aku melihat secarik kertas di atas piano itu. Kertas yang bertuliskan angka-angka. Oh. Ternyata itu adalah not angka. Aku mencoba menekan tuts sesuai dengan not-not angka itu. Meskipun aku menekan tuts dengan kacau, tapi aku tahu kalau melodi ini adalah melodi lagu canon. Apa Shiroyama yang meninggalkannya?

Tiba-tiba terdengar suara orang membuka pintu. Ya ampun. Shiroyama?

Shiroyama melihat padaku. Apa yang harus aku lakukan?

“Eh. Apa ini punyamu?” tanyaku menunjukkan kertas tadi.

“Bukan.” Shiroyama menjawab dengan dingin. Seperti kata-kata orang, Shiroyama memang dingin dan pendiam. Aku jarang melihatnya bergaul dengan yang lain. Tidak seperti Kyo-chan. Temannya ada di mana-mana.

Shiroyama duduk di kursi tanpa berkata apa-apa.

Aku bergegas pergi, toh dia tidak mempedulikanku.

“Aduh!” aku terjatuh. Dasar ceroboh! Kenapa bisa tersandung kaki piano sebesar itu.

“Kamu tidak apa-apa?” saat aku mendongak, Shiroyama sedang mengulurkan tangannya padaku. Aku meraih tangan itu.

“Terima kasih.” Wajahku mulai memerah lagi.

Shiroyama malah mendekatkan wajahnya, “Kamu.. kamu yang tadi mengintipku kan?”

Pertanyaan Shiroyama membuat wajahku semakin panas.

“Maaf. Aku tidak bermaksud mengintip. Cuma kebetulan lewat kok.”

“Oh.”

“Tapi.. permainan pianomu bagus.”

“Piano?”

“Ya. Canon.”

“Oh. Ini maksudmu?” Shiroyama mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.

mp3 player? Jadi tadi itu?

“Jadi kamu tidak..”

“Aku tidak bisa memainkan piano.” Shiroyama tersenyum kecil. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum. Persis seperti dugaanku. Dia sangat tampan. Coba kalau dia tertawa.. pasti wajahnya seperti anak kecil. Ya, seperti Kyo-chan. Kalau tertawa seperti.. Ya ampun! Kyo-chan!

“Maaf, aku harus segera pergi.” Kataku lalu buru-buru pergi.

Kenapa aku bisa melupakan pertandingan Kyo-chan?

Kyosuke POV

Permainanku kacau. Bagaimana ini? Kenapa dia belum datang?

Aku mencari-cari di kursi penonton, tetap tak kutemukan sosoknya.

“Haibara, kenapa kamu hari ini? Semangatlah!” kata pelatih padaku.

Ini memang hanya pertandingan persahabatan, tapi sekolah kami harus menang.

PRITT

Pertandingan kembali berlangsung.

“Kyo-chan!!” aku menoleh saat suara yang tak asing itu menyeruiku. Semangatku bangkit saat kulihat Kanako berdiri di antara para penonton. Sosoknya yang sedang bersorak memberi dukungan padaku membuatku yakin, kali ini aku pasti bisa.

###

“Selamat ya!” kata Kanako mengacak rambutku.

“Dasar pendek! Mau ngacak rambutku saja perlu jinjit!”

“Dasar! Sudah bagus aku mau datang!”

Kanako POV

“Kenapa datang terlambat?” tanya Kyo-chan padaku.

“Hehe. Maaf.” jawabku lalu tersenyum, “Aku mau cerita sesuatu nih.”

“Apa?” Kyo-chan duduk di sampingku.

“Kamu tahu Shiroyama kan?”

“Shiroyama.. “ Kyo-chan berpikir sebentar, “Shiroyama Kenichi? Yang pemurung itu?”

“Iya. Benar!” kataku semangat.

“Lalu?”

“Tadi aku bertemu dengannya di ruang musik. Lalu dia tersenyum padaku. Sesuai dugaanku, senyumnya manis!” kataku sambil mengguncan-guncang badan Kyo-chan.

“Kamu suka padanya?” pertanyaan Kyo-chan membuat wajahku memerah.

“Ti..tidak kok.” Jawabku lalu memalingkan wajah.

“Bohong! Wajahmu saja sudah kayak tomat. Hayoo..” goda Kyo-chan.

“Ih.. apaan sih!”

“Haha. Ngaku! Pasti suka kan?”

“Enggak!”

“Bohong!”

“Beneran! Ih Kyo-chan apa-apaan sih. Sembarangan deh.”

###

Aku menaruh tasku di atas meja, lalu merebahkan tubuhku di kasur. Aku terpikir kata Kyo-chan tadi. Apa benar aku suka pada Shiroyama? Aku memang kadang suka memperhatikannya di sekolah. Tapi aku tidak menyadari kalau itu adalah rasa suka. Shiroyama itu seperti seorang pangeran, wajahnya yang tampan, sikapnya yang pendiam dan tak banyak bicara, belum lagi dia suka musik klasik.

TUK

Lamunanku buyar saat jendela kamarku dilempari. Pasti Kyo-chan.

“Ada apa?” tanyaku sembari membuka jendela.

“Cuma memastikan si tomat meledak atau tidak.”

“Dasar! Apa maksudmu tomat?”

“Wajahmu memang sudah kayak tomat mau meledak tadi.” Kyo-chan tertawa terkekeh.

“Cih. Gak lucu!” kataku memalingkan muka.

“Hey. Kamu benar-benar suka pada Shiroyama?” raut wajah Kyo-chan mendadak serius.

“Me..memangnya kenapa kalau iya?”

“Aku pernah mendengar gossip tentangnya..”

“Gosip? Gosip apa?”

“Gosip kalau dia itu suka dengan perempuan yang cantik dan dewasa jadi dia tidak mungkin menyukai perempuan ceroboh dan serampangan kayak kamu!” celoteh Kyo-chan tanpa diselingi titik maupun koma.

“Biarin!!” kataku lalu mencibir.

Aku menutup jendela dengan cepat. Sehingga Kyo-chan tidak sempat mengucapkan kata-kata penutup.

“Apaan sih. Belum juga selesai ngomong.” Terdengar celotehan Kyo-chan dari luar.

Apa benar yang dikatakan Kyo-chan?

###

Anak-anak cowok sibuk bercanda di sana-sini. Sedangkan beberapa grup anak cewek bergosip ria di kelas. Aku tidak pernah tertarik dengan kegiatan mengosip seperti itu. Buang-buang waktu saja. Tapi aku menyukai suasana sekolah seperti ini. Semuanya bercanda tawa dengan wajah gembira.

Pandanganku terhenti pada seseorang di ujung koridor. Shiroyama. Apa yang sedang ia lakukan? Sepertinya sedang membuang sesuatu.

Aku berjalan mendekati tempat sampah saat Shiroyama berlalu pergi. Lalu kutemukan mp3 player miliknya  dan.. robekan kertas.

###

Aku mencoba merekatkan kembali robekan-robekan itu. Lalu kusadari, bahwa itu adalah selembar foto. Foto seorang perempuan cantik dan dewasa, persis seperti yang dikatakan Kyo-chan semalam. Siapa perempuan ini? Saat membalik foto itu, aku melihat tulisan, sebuah kalimat dalam bahasa Inggris. ‘In love with Kanon.’

Kanon? Lagu canon maksudnya?

Aku mengambil mp3 player itu, lalu menekan tombol play. Terdengar sebuah lagu. Lagu yang sangat kukenal. Lagu yang membuatku jatuh hati pada Shiroyama. Lagu yang sangat menenangkan hati.

Aku lalu memejamkan mataku dan membiarkan lagu ini menguasaiku. Seperti berada di alam yang damai. Melodi yang saling bertautan. Canon.

“Au!!” rasa damai itu buyar saat seseorang menjitak kepalaku.

Kyosuke POV

“Haibara! Mau kemana?” tanya seorang senior.

“Aku akan segera kembali!” kataku lalu meninggalkan lapangan. Mataku tertuju pada Kanako yang sedang tidur di bawah pohon yang rindang.

PLETAKK

“Au!!” jerit Kanako kaget.

Bodoh. Kenapa aku malah menjitaknya?

“Kenapa tidur di sini?” tanyaku lalu mengambil tempat untuk duduk di sampingnya.

“Gak tidur kok. Cuma mendengarkan lagu.”

“Ini maksudmu?” aku menyambar mp3 player yang dipegang Kanako, lalu kudengar lagu yang dikatakannya.

“Canon? Sejak kapan kamu suka musik klasik?” tanyaku heran karena tidak biasanya ia mendengarkan jenis musik seperti ini.

“Sejak kemarin.”

“Karena Shiroyama juga mendengarnya?” sepertinya tebakanku tepat sasaran. Wajah Kanako memerah.

“I.. iya. Sebenarnya aku memungut ini. Ini.. miliknya.” kata Kanako gugup. Benar-benar sikap yang tidak biasa.

“Kamu tahu gadis ini?” kata Kanako menunjukkan selembar foto.

Aku menggelengkan kepala.

“Mungkin ini perempuan yang disukainya.” kata Kanako lirih.

“Kamu serius menyukainya?”

“Aku.. entahlah.” Kanako menundukkan kepala.

Aku menghela nafas.

“Apa sih yang kamu suka darinya? Cowok kerempeng kayak gitu. Bukankah aku lebih keren?” kataku lalu memamerkan otot-ototku yang lumayan kekar.

“Bodoh!” kata Kanako lalu tertawa.

“Justru itu.. Shiroyama.. memiliki aura yang berbeda dari semua cowok yang kukenal.”

Saat melihat ekspresi wajah Kanako yang seperti itu, aku tahu, dia benar-benar menyukainya.

Kanako POV

Ah. Hujan deras. Bagaimana aku bisa pulang? Aku tidak membawa paying hari ini.

Keadaan sekolah sudah semakin sepi. Mungkin hanya tinggal aku. Kyo-chan juga sudah pulang dari tadi.

Tiba-tiba aku merasakan seseorang berdiri tepat di belakangku. Saat menoleh, kudapati seseorang, Shiroyama!

Ternyata ini hujan yang membawa keberuntungan bagiku.

Aku teringat pada mp3 player yang dibuang Shiroyama.

“Shiroyama..”

Shiroyama menoleh padaku.

“Ini.. aku menemukannya di tempat sampah.”

Shiroyama terlihat kaget melihat apa yang kupegang. Ia lalu merampas dan membuangnya ke jalan.

“Ke..kenapa dibuang?”

“Jangan ikut campur pada urusan orang lain!” bentaknya lalu berjalan pergi.

Punggung Shiroyama dan mp3 player miliknya yang sama-sama diguyur hujan. Entah kenapa di saat seperti ini, lagu itu.. terus terngiang di kepalaku.

###

Aku memandang lekat foto itu. Mp3 player milik Shiroyama yang sudah rusak karena hujan, masih kugenggam erat. Aku tidak tahu kalau sudah mencampuri urusannya. Aku hanya peduli padanya. Tidak. Aku tidak akan diam saja. Aku harus meminta maaf padanya.

###

Kenichi POV

Kepalaku terasa berat. Aku tidak habis pikir. Kenapa mp3 player itu malah dipungut orang lain? Dia. Bukankah dia perempuan yang mengira aku memainkan lagu canon?

“Shiroyama!”

Perempuan itu menghampiriku.

“Maaf. Aku tidak bermaksud mencampuri urusanmu. Aku hanya..”

“Tidak apa-apa. Aku juga salah telah membentakmu. Aku hanya tidak ingin melihat benda itu lagi.”

“Oh.. Baiklah.”

“Kamu.. bagaimana kamu bisa tahu namaku?”

“Itu.. rahasia!” kata perempuan itu lalu tersenyum manis membuatku teringat padanya.

“Siapa namamu?”

“Kanako. Inaba Kanako!”

Kanako POV

“Kanako. Inaba Kanako!” kataku semangat saat Shiroyama menanyakan namaku.

“Baiklah Kanako, aku pergi dulu.” katanya lalu tersenyum.

Saat melihat senyum itu, entah kenapa lagu itu kembali terngiang di pikiranku. Canon.

###

Aku memasuki ruang musik yang kosong. Lalu mencoba menekan tuts piano. Kubuka secarik kertas yang kutemukan beberapa hari lalu. Lalu mencoba memainkannya. Permainanku tentu sangat kacau. Aku sama sekali tidak mengerti musik.

Mendadak Shiroyama berdiri di sampingku dan mengambil foto yang telah dirobeknya itu.

Aku takut ia akan membentakku lagi.

“Maaf. Aku tidak..”

Shiroyama tersenyum kecil.

“Kanon..” gumamnya.

Aku menatapnya bingung. Namun penuh rasa ingin tahu.

“Perempuan ini bernama Kanon. Dia seniorku di SMP.”

In love with Kanon.

Kini aku mengerti makna dari kalimat itu.

“Dia sangat menyukai lagu itu. Sosoknya saat memainkan canon, selalu terbayang di benakku.”

Sinar mata Shiroyama benar-benar menunjukkan bahwa ia menyukai perempuan bernama Kanon itu.

“Sayangnya, aku bertepuk sebelah tangan..”

Aku merasa aku bisa memahami perasaan Shiroyama. Kami sama-sama jatuh cinta karena lagu canon, dan kami.. sama-sama bertepuk sebelah tangan.

Kenichi POV

“Maaf. Aku malah bercerita padamu.”

Kenapa aku malah curhat padanya?

“Tidak apa-apa. Aku malah merasa bisa memahami perasaanmu.” kata perempuan bernama Inaba Kanako itu.

“Terima kasih..”

“Kamu bisa memanggilku Kanako.” Inaba tersenyum manis.

Lalu aku membalas senyumnya.

Kyosuke POV

“Apa?? Belajar piano??”

“Ya. Aku ingin bisa memainkan lagu canon dengan bagus.” kata Kanako semangat.

“Apa ini semua karena Shiroyama?”

“Tidak. Aku sekarang benar-benar menyukai lagu canon. Dan aku pikir, itu bukan karena Shiroyama.”

Kenapa dia bisa menyukai Shiroyama sampai seperti ini? Cewek bodoh!

“Bukankah Shiroyama suka pada perempuan lain?” tanyaku.

“Ya. Tapi aku tidak akan menyerah! Lagipula Shiroyama bilang dia bertepuk sebelah tangan. Artinya aku masih punya kesempatan bukan?”

Aku hanya bisa mengehela nafas melihatnya begitu bersemangat mendapatkan hati Shiroyama.

Kanako POV

“Hey! Lihat ini.” kata seorang murid di kelasku.

“Bukankah itu Shiroyama?”

“Shiroyama yang dingin itu?”

Aku mengambil majalah yang diributkan mereka. Lalu kulihat Shiroyama dalam foto itu yang sedang memainkan piano.

In love with Kanon’, headline yang tertulis di majalah itu.

“Ini majalah kapan?”

“Entahlah. Sepertinya majalah lama.”

Shiroyama adalah seorang pianis?

###

Aku mencari-cari sosok Shiroyama. Lalu teringat pada satu tempat yang selalu didatanginya.

Aku membuka pintu ruang musik, lalu kulihat Shiroyama yang tengah duduk memainkan piano.

Lagu yang tidak pernah kudengar sebelumnya, namun sangat indah.

Shiroyama menghentikan permainannya karena terkejut melihat kedatanganku.

In love with Kanon.”

“Itukan judul lagu tadi?”

Shiroyama menatapku heran.

“Apa kamu seorang pianis? Aku melihatmu di sebuah majalah.”

“Kamu salah orang.”

“Tidak mungkin, headline majalah itu sama dengan kalimat di foto Kanon. Dan lagu tadi..”

“Ternyata kamu bisa menebaknya.” kata Shiroyama.

“Aku membuat lagu itu untuknya. Tapi.. aku ditolak.”

“Apa kamu berhenti menjadi pianis karena ditolak?”

“Aku..”

FLASH BACK

Malam itu adalah malam di mana aku ingin memperdengarkan lagu yang kutulis dengan sepenuh hati untuknya pada semua orang. Aku begitu yakin dengan perasaanku. Tapi dalam perjalanan.. aku tertimpa kecelakaan yang cukup parah. Tangan kananku lumpuh. Aku berjuang keras untuk dapat bermain piano lagi. Aku ingin dia mendengarkan lagu yang kutulis itu dari permainanku sendiri. Setelah menjalani pengobatan dan rehabilitasi, akhirnya aku bisa menggerakkan tanganku perlahan. Aku ingin segera memainkan lagu itu untuknya. Saat menuju ke rumahnya, aku melihat seorang pria bersamanya. Baru kusadari, aku sudah terlambat untuk memainkan lagu itu.

“Apa pria itu pacarnya?”

“Dia tidak bilang begitu. Tapi dari sorot matanya aku tahu, kalau lelaki itu telah memilik hatinya.”

“Kalau kamu belum sempat memainkan lagu itu, lalu kenapa di majalah tertulis kalimat itu?”

“Konser di hari itu adalah konser di mana aku akan memainkan lagu itu.”

“Lalu karena itu, kamu berhenti bermain piano? Kenapa?”

“Selama ini aku hanya bermain untuknya seorang.”

“Bodoh.”

Shiroyama menatapku heran.

“Padahal permainanmu bagus. Kenapa hanya memainkan untuknya seorang? Orang-orang menyukai permainanmu. Tapi orang-orang itu pasti akan kecewa kalau tahu kamu hanya bermain piano karena menyukai seseorang.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu tidak pernah menyukai piano! Yang kamu sukai itu hanya Kanon! Apa itu yang bisa disebut pianis? Orang-orang telah salah menilaimu.” kataku lalu beranjak pergi.

Entah apa yang kupikirkan. Kenapa aku malah memarahinya? Itu bukan salahnya. Shiroyama.. dia sudah banyak menderita.

“Kanako?” aku mengusap air mataku cepat saat seseorang memanggilku.

“Kamu menangis?” tanya Kyo-chan melihat mataku sembab.

“Aku mengerti..”

“Hah?”

“Aku mengerti saat kamu mengataiku bodoh karena ingin belajar memainkan piano hanya karena lagu canon yang disukai Shiroyama.”

Kyosuke POV

“Baguslah. Akhirnya kamu mengerti.” kataku pelan.

“Lalu.. apa yang terjadi?”

“Entahlah.. aku.. sudah tidak punya harapan lagi. Dia benar-benar menyukai Kanon.”

“Bukankah kamu yang bilang akan berusaha?”

“Kalau aku menyukai seseorang, aku tidak akan berusaha menjadi seperti orang yang disukainya. Tapi aku akan berusaha menunjukkan kalau aku lebih hebat dari orang itu. Karena aku tidak ingin dia menyukaiku karena aku menjadi orang yang disukainya. Aku ingin dia menyukaiku karena aku menjadi diriku sendiri. Apa kamu mengerti?”

Kanako terlihat bingung mendengar perkataanku.

“Kanako, dirimu akan terlihat lebih baik dari siapapun juga saat kamu menjadi dirimu sendiri.”

“Karena itulah. Jangan menjadi orang lain. Tetaplah menjadi dirimu.”

Kanako hanya diam.

“Jadilah Kanako yang terus berusaha mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Karena itulah Kanako yang aku.. kenal.” Hampir saja aku keceplosan kalau aku.. menyukainya.

“Jadi aku harus..”

“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.” kataku lalu tersenyum.

“Baiklah!” seru Kanako.

“Terima kasih Kyo-chan! Kamu memang sahabat terbaiku!”

Aku memandangi Kanako yang berlalu pergi. Aku bertemu dengannya lebih dulu, mengenalnya lebih dulu. Tapi kenapa.. kenapa dia malah menyukai Shiroyama? Perasaan suka itu memang aneh.

Kenichi POV

Aku terus memikirkan kata-kata Inaba.

Selama ini aku tidak benar-benar menyukai piano?

“Shiroyama!” Inaba kembali setelah kejadian tadi.

“Mainkanlah lagu itu untuknya.”

“Bukankah kamu belum menyatakan perasaanmu?”

Aku menatap Inaba dengan penuh tanya. Apa maksudnya?

“Aku.. tidak akan menyerah sebelum benar-benar menyatakan perasaanku pada orang yang kusukai meski aku tahu akan ditolak.”

“Aku menyukaimu!”

Pernyataan Inaba membuatku kaget.

Inaba tertawa dengan wajah polosnya, “Meski ditolak, setidaknya itu membuatku merasa lega!”

“Sekarang giliranmu!” seru Inaba sambil menunjuk padaku.

“Apa kamu akan menyerah sebelum menyatakannya?”

Perkataan Inaba hari ini membuatku banyak berpikir.

Kanako POV

“Terima kasih Inaba. Kamu telah menyadarkanku.” kata Shiroyama lalu tersenyum.

“Berjuanglah!” seruku.

“Terima kasih juga atas perasaanmu.. maaf kalau..”

“Sudah..sudah.. ayo sana pergi. Tunjukkan permainan terbaikmu!”

“Baiklah.” Shiroyama tersenyum lagi.

“Setelah kembali kamu harus memainkan lagu itu untukku ya!”

Sosok Shiroyama berlalu pergi. Lagu itu kembali terngiang di benakku. Canon, lagu yang saling mengejar satu sama lain..

-FIN-

RCL RCL ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s